Rechercher dans ce blog

Sunday, April 5, 2020

Karena Covid-19, Sampai Kapan Harus Hidup Begini? - kompas.id

AFP/CARLO HERMANN

Seorang perempuan menaruh makanan dalam “keranjang solidaritas” di Naples, 3 April lalu, untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Warga Italia sudah menjalani karantina selama tiga pekan dan diperpanjang hingga pertengahan April mendatang. (Photo by Carlo Hermann / AFP)

Pertanyaan ini pasti ada di benak semua orang di dunia ini. Kapan derita ini akan berakhir dan bagaimana menghadapi situasi yang serba tidak pasti seperti ini. Orang sudah tidak sabar ingin bisa kembali bebas bepergian kemana saja dan berinteraksi dengan siapa saja tanpa khawatir akan tertular virus.

Gubernur New York, Amerika Serikat, Andrew Cuomo, seperti disebutkan harian USA Today, mengaku orang sudah gelisah dan lelah karena kehidupan sehari-harinya terganggu. “Semua hanya ingin tahu kapan ini berakhir. Tetapi tidak ada yang tahu,” ujarnya, Sabtu lalu.

Baca juga: Saran Psikolog-Terapis Atasi Kecemasan di Tengah Wabah Korona

Di mata psikolog, situasi penuh ketidakpastian ini membuat orang gelisah. Ini karena pada dasarnya manusia selalu berusaha memprediksi situasi. Setiap hari orang mengandalkan kemampuan memprediksi untuk menjalani kehidupan. Ketika tidak bisa lagi memprediksi, muncul rasa tidak nyaman dan tidak aman.

Psikolog klinis di California, AS, Melanie Greenberg, menjelaskan orang mengandalkan kemampuan itu untuk hidup dan masalahnya sekarang orang tidak bisa memprediksi apa-apa lagi. Otak manusia dirancang untuk bisa memprediksi apa yang akan terjadi ke depan dan membuat sederet rencana persiapan.

“Rakyat AS tahu mereka sedang terancam tetapi tidak tahu sampai seberapa parah akan memengaruhi ekonomi, politik, atau masyarakat secara umum,” kata Greenberg.

AFP/RODGER BOSCH

Dua pria berjalan melintasi Long Street kawasan yang biasanya menjadi kawasan hiburan tersibuk dan paling populer di Cape Town pada 3 April 2020 lalu. Afrika Selatan seperti beberapa negara di benua Afrika memberlakukan jam malam yang ketat untuk membendung penyebaran COVID-19 di seluruh benua itu.

Pemerintah pun tidak tahu sampai kapan aturan menjaga jarak fisik atau karantina dipertahankan. Banyak orang tidak tahu apakah mereka akan bisa tetap bekerja atau membuka usaha lagi setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Penyakit asing

Penyakit Covid-19 ini benar-benar asing. Banyak pihak tengah berjibaku mengenalnya, meneliti, dan berupaya keras menemukan vaksin atau obat untuk menundukkannya. 

Sudah Berlangganan? Silakan Masuk

Baca Berita Korona Terkini di Kompas.id, GRATIS

Harian Kompas berikan BEBAS AKSES untuk seluruh artikel di Kompas.id terkait virus korona.

Di sisi lain, biasanya orang akan memanfaatkan ingatan untuk mengurangi rasa takut. Otak belajar dari pengalaman masa lalu yang bisa menciptakan respon untuk tetap aman dan menghindari rasa sakit. Masalahnya, tidak ada yg mempunyai pengalaman dengan korona.

Orang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Meski demikian, karena ada rutinitas maka orang setidaknya bisa merangkai berbagai kemungkinan prediksi untuk memberikan ketenangan. Namun pandemi ini menghancurkan kebiasaan itu. “Kita butuh kepastian untuk merasa aman. Sekeras apapun usaha melindungi diri dari ketidakpastian hidup, kita musti bisa menerima saja kondisi saat ini,” kata Nancy Colier, psikoterapis.

Baca juga: Tekan Dampak Sosial Pembatasan

Orang biasanya khawatir dengan kondisi kesehatannya, hidupnya, dan orang-orang yang dicintai. Kekhawatiran, kata para pakar, sebenarnya bertujuan melindungi seseorang tetapi jika dosisnya berlebihan malah akan bisa meracuni.

Warga kota Alexandra di Johannesburg, Afrika Selatan, sedang antri masuk ke supermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari, 3 April 2020. Pemerintah Afsel menetapkan kebijakan karantina selama 21 hari untuk menekan laju penularan Covid-19.(AP Photo/Jerome Delay)

Direktur Penelitian Klinis dan Kualitas di Asosiasi Psikologi Amerika, Vaile Wright, mengatakan toleransi terhadap situasi ketidakpastian ini berbeda-beda untuk setiap orang. Ada orang yang memantau apa yang terjadi selama pandemi terus dan sering cuci tangan. Ada yang bahkan sampai menciptakan mimpi buruk. Sebenarnya orang bisa saja tidak terlalu khawatir. Tetapi itu bisa terjadi hanya jika fokus pada kondisi saat ini saja.

“Wajar saja kalau kita berjuang menghadapi ketakutan yang tidak kita ketahui. Tetapi kita harus bisa melepaskan pikiran-pikiran mengganggu seperti ‘ini tidak adil’, ‘kenapa ini terjadi’. Pikiran itu yang membuat kita takut terus,” kata Wright.

Butuh latihan

Untuk mampu menghadapi ketidakpastian tentu butuh latihan. Para pakar menyarankan latihan untuk fokus bisa membantu. Ketika seseorang fokus saja pada apa yang mereka lihat, dengar, rasa, dan cium, otak akan mengeset untuk tidak khawatir. Orang bisa menghindari kekacauan diri sendiri dengan mengingat-ingat apa saja yang biasanya dilakukan untuk membuat diri merasa aman.

AFP/OLI SCARFF

Leo (C), berusia 6, dan Espen, berusia 3 tahun, dibantu oleh ibu mereka Moira ketika mereka mengakses sumber belajar daring yang disediakan oleh sekolah Taman Kanak-kanak di Marsden, dekat Huddersfield, Inggris utara pada 23 Maret 2020. Keluarga-keluarga di seluruh Inggris mulai terbiasa dengan pembelajaran dari rumah dan mengakses pendidikan daring setelah pemerintah menutup sekolah untuk hampir semua anak sebagai langkah untuk memerangi penyebaran Covid-19.

Collier mengingatkan penting juga untuk menyayangi diri sendiri karena pikiran-pikiran mengganggu itu tidak bisa dianggap remeh. “Ini di luar zona nyaman kita. Semua berubah. Kita diminta untuk kembali ke diri sendiri. Ini sangat sulit bagi banyak orang,” ujarnya.

Baca juga: Tetap Waspada dan Jangan Panik

Perubahan, lanjut Collier, sering terjadi dan bisa dilakukan atas kemauan sendiri. Untuk itu, perlu menjadikan momen pandemi Covid-19 ini untuk refleksi diri, mempertanyakan hal-hal mendasar dalam hidup, nilai-nilai, bahkan realita kehidupan. Meski tidak ada kepastian tentang masa depan, masa-masa yang penuh ketidakpastian ini memberikan ruang bagi setiap orang untuk tumbuh menjadi orang yang lebih yakin pada diri sendiri sehingga akan tahu mau menjadi seperti apa.

“Ini kesempatan kita untuk berubah. Kalau bisa memanfaatkan momen ini untuk berubah menjadi lebih baik, itu akan jauh lebih berharga,” kata Colier.

Let's block ads! (Why?)



"Begini" - Google Berita
April 06, 2020 at 08:34AM
https://ift.tt/2xTBhrG

Karena Covid-19, Sampai Kapan Harus Hidup Begini? - kompas.id
"Begini" - Google Berita
https://ift.tt/2SRqpmF
Shoes Man Tutorial
Pos News Update
Meme Update
Korean Entertainment News
Japan News Update

No comments:

Post a Comment

Search

Featured Post

‘It’s difficult to live like this.’ Twin City residents on edge amid mounting turmoil. - The Christian Science Monitor

[unable to retrieve full-text content] ‘It’s difficult to live like this.’ Twin City residents on edge amid mounting turmoil.    The Christ...

Postingan Populer